Boelan Sabit


ibu
Mei 25, 2010, 7:10 pm
Filed under: renungan

Ibu. Wanita yg daripadamu aku mendapat air kehidupan. Daripadamu aku dibesarkan dgn kasih sayang. Dan daripadamu aku belajar akan cinta, alam dan Tuhan. Wanita yg tak akan pernah berani kupersamakan dengan wanita manapun di dunia.

Aku sadar, seberapapun kuat usaha, hutangku tak akan pernah impas. Aku cuma bisa berdoa, agar Alloh slalu memberiku kekuatan untuk membalas hutang kebaikanmu itu. Aku berdoa smg Alloh berkenan menghapus sgl salahmu dan menerima amal ibadahmu. Meng-hisab tiap debu di tiap langkahmu, tiap tetes darah, keringat dan air mata yang tercecer slm membesarkanku, sebagai untaian kebaikan yg menghantarkanmu kelak ke surga-Nya. Aku juga berdoa agar Alloh berkenan menjauhkan waktu itu. Waktu di saat aku tak akan bisa bermanja lagi dengan usapan bijak jemarimu di kepalaku. Waktu di saat terakhir kali-nya akan bisa kukecup hormat punggung tanganmu. Waktu di saat harus kumandikan dan kusholatkan tubuh suci-mu, atau sebaliknya. Aku ingin waktu itu masih jauh…

Ya Alloh, akan ku-Nadzar-kan tubuhku untuk jadi anak yang shalih. Karena kalau tidak, doa ku tidak akan mungkin Engkau terima.

.

*Mampang Prapatan, 25 Mei 10.00 WIB. Di sebelah driver-kantor yg sdg mengemudi dgn gugupnya sambil berkaca2 matanya menahan tangis, setelah menerima kabar ibunda tercintanya baru saja meninggal dunia.

Iklan

2 Komentar so far
Tinggalkan komentar

Like this

Komentar oleh Catur Adi Nugroho

cerita nhya bagus juga,..

Komentar oleh investasi emas




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: