Boelan Sabit


satu krn beda
Februari 1, 2010, 1:10 am
Filed under: ordinary, renungan

Desa mawa cara, negara mawa tata. Suatu istilah di jawa yang berarti : tiap daerah punya aturan dan adat sendiri, beda daerah beda tata cara dan adat istiadat-nya. Hal itulah yg terjadi ketika menghadiri walimahan (resepsi nikah) seorang sahabat, kemarin. Gara2 beda persepsi ttg tata cara walimahan, acara jadi molor hampir 2 jam.

Sbg info, keluarga mempelai pria (sahabatku) berasal dari Blitar, keluarga dengan latar belakang pondok pesantren tradisional jawa timur-an. Sedangkan keluarga mempelai wanita, selaku tuan rumah, berasal dari Boyolali dgn latar belakang adat istiadat Solo, yg katanya lebih halus dari daerah jawa timur (anggapan orang). Sahabatku bukannya tidak menyadari perbedaan itu, dan alhamdulillah dia berhasil memadukannya, walaupun acara jadi sedikit molor, hehe. Jadilah acara walimahan yg cukup unik, urut2an dan tata cara tetep dilakukan sesuai adat Solo tapi bukannya di-iringi oleh gendhing (lagu) jawa melainkan oleh tabuhan Rebana ala pondok pesantren (seru juga).

Tak lupa ketika acara seserahan, keluarga mempelai pria scr halus mohon maaf jika ada khilaf yg mengakibatkan molornya acara walimahan tsb. Dari keluarga mempelai wanita pun memaklumi, yang penting acara tetep dpt dilanjutkan & berjalan lancar. Dan Ketika giliran Pak Kyai memberikan sambutan, beliau sedikit menyinggung kembali hal tersebut. Menurut beliau, sudah lama kita kenal istilah desa mawa cara negara mawa tata, jadi wajarlah jika masing2 keluarga punya persepsi dan tata cara sendiri2, yang penting adalah bagaimana saling menerima & menghormati perbedaan tsb.

Bahkan kata Pak Kyai, kalau dibandingkan dgn adat di negeri Irak sana maka bedanya lebih ekstrim lagi. Kalau di sini ketika acara seserahan selesai, kedua mempelai akan disandingkan di kursi pelaminan dan didampingi kedua pihak keluarga untuk menerima ucapan selamat dari para tamu. Sedang di Irak sana, ketika acara seserahan selesai maka kedua mempelai akan langsung di-giring ke dalam satu kamar tersendiri untuk segera berhubungan suami istri, setelah selesai maka bukti pertempuran tsb yg berupa bercak darah dan sperma di kain sprei akan di pertontonkan kepada tamu sabagai bukti bhw mereka telah resmi jd suami istri. Wah kayaknya seru….  hihi.

Dan menurutku perbedaan mmg bukanlah alasan untuk saling berdebat dan berselisih. Bukankah sebenernya kedua mempelai tsb bersatu di sekeliling perbedaan yg mereka miliki, bukankah yg satu Pria dan satunya lagi wanita. Coba bayangkan, mungkinkah mereka bisa bersatu jika keduanya bersifat pemarah semua, tentu harus ada satu pihak yg bersabar diri, mengalah tanpa merasa direndahkan, melainkan karena kasih sayang. So, tidak ada yg salah dgn perbedaan sejauh kita bisa menerima dan menghormati, justru dengan adanya perbedaan itulah kita bisa saling melengkapi. Bukan begitu?

Sragen, 24-01-2010

Iklan

2 Komentar so far
Tinggalkan komentar

wah baru habis dari mudik yah…. oleh2nya dong.
btw, setuju banget mas. kita disatukan sebenernya krn perbedaan yg kita miliki.

Komentar oleh Zamzam

Howdy fantastic blog! Does running a blog like this take
a large amount of work? I have no expertise in programming however I had been hoping to start my own blog soon.

Anyways, if you have any ideas or techniques for new blog owners please share.
I know this is off topic nevertheless I just needed to ask.
Many thanks!

Komentar oleh insurance handbook for the medical office 12th edition




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: