Boelan Sabit


Care-less
September 12, 2009, 3:15 pm
Filed under: ordinary, renungan

Pengemis

Sore itu sepulang dari kantor, aku sengaja jalan kaki skalian menikmati suasana jakarta di sore hari. Seperti biasa ketika melintasi salah satu jembatan penyeberangan di jl.jend sudirman, banyak pedagang kaki lima yg menjajakan barangnya di badan jalan. Yah menurutku cukup mengganggu sih, tapi tak apalah, aku paham bagaimana kondisi hidup di jakarta, malah menurutku hal tsb menunjukkan besarnya semangat hidup mereka.

Tapi hanya berselang bbrp meter dari dereten pedagang tadi, aku jumpai hal yg menyedihkan, bbrp Pengemis tampak duduk (lesehan) di bbrp sudut jembatan. Umumnya mereka berpakaian kumal dan lintas golongan, bisa pria maupun wanita, anak2 maupun orang tua. Dan yg utama penampilan mereka sdh pasti membuat hati iba, ada yg menonjolkan wajah tua, luka-luka, cacat fisik dan yg plg tidak aku suka terkadang ada yg membopong bayi yg msh merah. Anehnya keberadaan mereka seolah terorganisir, krn hampir pasti dpt ditemui di tempat2 umum seperti terminal, halte bus dan jembatan penyeberangan. Seolah2 mrk datang dr seluruh negeri, hanya untuk mengadu nasib sbg pengemis di ibukota ini.

Yah pengemis, yg menurut perbendaharan kata di otak kita tentu mendefinisikan sebagai sosok pemalas yg menggantungkan hidup dari meminta-minta belas kasih pemberian orang lain. Kaum terpinggirkan yg dianggap mengganggu dan merusak pemandangan kota. Dan sblm-nya pendapatku pun sama. Tapi, apakah memang benar seperti itu?, bukankah keberadaan mereka sebenarnya disebabkan oleh “ketidak-pedulian” kita…

Sblmnya mari berfikir positif saja, Keputusan mereka menjadi pengemis tentu didasari oleh ketidakberdayaan, krn tidak ada pilihan lain untuk hidup. Bukankah sdh sifat naluriah manusia bahwa jika kita dalam kondidi tidak berdaya, kita cenderung menggantungkan (minta tolong) kpd orang lain, namun ketika tak satupun orang yg peduli maka hasilnya adalah “Putus Asa”.

Ketidakpedulian kitalah yg membuat mereka menjadi sosok tanpa semangat hidup dan tanpa pilihan hidup.

Dimulai dari ketidakpedulian kita pada teman, saudara atau tetangga yg kesusahan. Kita juga acuh saja ketika mereka kemudian jatuh fakir, miskin dan kelaparan, padahal bukankah di sebagian harta yg kita miliki sebenarnya ada harta yg menjadi hak mereka. Bahkan ketika mereka sdh benar2 jd pengemis dan menengadahkan tangan di depan kita, kita cuma berlalu saja dan ttp enggan utk peduli, kita msh saja berfikir : “ah paling juga ada orang lain yg peduli”. Atau kalaupun ketika kita memberikan uang receh kpd mereka (pengemis) sebenarnya kita tetap saja tidak peduli : krn kita cuma peduli akan nasib perut mereka hari itu tapi tidak akan masa depan mereka.

Lalu bgmn jalan keluarnya?, yah terlalu beratlah utk dipikirkan sendirian oleh otak yg dangkal dan kerdil macam otakku ini, haha.

Menurutku banyak yg bisa kita lakukan. Dimulai dari kemampuan kita untuk menjaga “kemandirian” diri sendiri. Dilanjutkan dgn kepedulian kita untuk menjaga kemandirian saudara, sahabat dan tetangga sekitar kita. Kejelian kita untuk melihat potansi zakat yg sampai saat ini terkesan sia-sia. Dan yg utama adl kejelian penguasa (pemerintah) untuk mulai melihat mereka (pengemis) sbg warga negara yg juga punya potensi untuk diberdayakan, bukan semata sbg sampah massa yg harus disingkirkan.

So, sblm makin banyak pengemis yg menyerbu jakarta atau mkn byk penduduk ibukota ini yg ‘berubah’ jd pengemis, mari kita mulai untuk “peduli”.

Iklan

Tinggalkan sebuah Komentar so far
Tinggalkan komentar



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: