Diarsipkan di bawah: renungan

Sesunguhnya kendaraan, rumah, tanah, harta, pangkat, jabatan, istri, putra bahkan nyawa kita adalah titipan-Nya. Dan kita semua tahu itu.
Tetapi pernahkah kita bertanya, Mengapa dan untuk Apa Dia menitipkannya pada kita?.
Dan Mengapa hati kita justru merasa berat ketika ‘titipan’ itu diminta kembali oleh-Nya?, padahal kita sadar bahwa semua itu memang benar2 sekedar ‘titipan’.
Diarsipkan di bawah: renungan
Sabar bukanlah Pasrah, Menerima atau Berserah pada keadaan. Tapi Sabar adalah Kekeuh, Tegar dan Tetap yakin bhw pertolongan Alloh Pasti akan datang….
~ kata pak ustadz pas khotbah jumat tadi ~

Sore itu sepulang dari kantor, aku sengaja jalan kaki skalian menikmati suasana jakarta di sore hari. Seperti biasa ketika melintasi salah satu jembatan penyeberangan di jl.jend sudirman, banyak pedagang kaki lima yg menjajakan barangnya di badan jalan. Yah menurutku cukup mengganggu sih, tapi tak apalah, aku paham bagaimana kondisi hidup di jakarta, malah menurutku hal tsb menunjukkan besarnya semangat hidup mereka.
Tapi hanya berselang bbrp meter dari dereten pedagang tadi, aku jumpai hal yg menyedihkan, bbrp Pengemis tampak duduk (lesehan) di bbrp sudut jembatan. Umumnya mereka berpakaian kumal dan lintas golongan, bisa pria maupun wanita, anak2 maupun orang tua. Dan yg utama penampilan mereka sdh pasti membuat hati iba, ada yg menonjolkan wajah tua, luka-luka, cacat fisik dan yg plg tidak aku suka terkadang ada yg membopong bayi yg msh merah. Anehnya keberadaan mereka seolah terorganisir, krn hampir pasti dpt ditemui di tempat2 umum seperti terminal, halte bus dan jembatan penyeberangan. Seolah2 mrk datang dr seluruh negeri, hanya untuk mengadu nasib sbg pengemis di ibukota ini.
Yah pengemis, yg menurut perbendaharan kata di otak kita tentu mendefinisikan sebagai sosok pemalas yg menggantungkan hidup dari meminta-minta belas kasih pemberian orang lain. Kaum terpinggirkan yg dianggap mengganggu dan merusak pemandangan kota. Dan sblm-nya pendapatku pun sama. Tapi, apakah memang benar seperti itu?, bukankah keberadaan mereka sebenarnya disebabkan oleh “ketidak-pedulian” kita…
Sblmnya mari berfikir positif saja, Keputusan mereka menjadi pengemis tentu didasari oleh ketidakberdayaan, krn tidak ada pilihan lain untuk hidup. Bukankah sdh sifat naluriah manusia bahwa jika kita dalam kondidi tidak berdaya, kita cenderung menggantungkan (minta tolong) kpd orang lain, namun ketika tak satupun orang yg peduli maka hasilnya adalah “Putus Asa”.
Ketidakpedulian kitalah yg membuat mereka menjadi sosok tanpa semangat hidup dan tanpa pilihan hidup.
Dimulai dari ketidakpedulian kita pada teman, saudara atau tetangga yg kesusahan. Kita juga acuh saja ketika mereka kemudian jatuh fakir, miskin dan kelaparan, padahal bukankah di sebagian harta yg kita miliki sebenarnya ada harta yg menjadi hak mereka. Bahkan ketika mereka sdh benar2 jd pengemis dan menengadahkan tangan di depan kita, kita cuma berlalu saja dan ttp enggan utk peduli, kita msh saja berfikir : “ah paling juga ada orang lain yg peduli”. Atau kalaupun ketika kita memberikan uang receh kpd mereka (pengemis) sebenarnya kita tetap saja tidak peduli : krn kita cuma peduli akan nasib perut mereka hari itu tapi tidak akan masa depan mereka.
Lalu bgmn jalan keluarnya?, yah terlalu beratlah utk dipikirkan sendirian oleh otak yg dangkal dan kerdil macam otakku ini, haha.
Menurutku banyak yg bisa kita lakukan. Dimulai dari kemampuan kita untuk menjaga “kemandirian” diri sendiri. Dilanjutkan dgn kepedulian kita untuk menjaga kemandirian saudara, sahabat dan tetangga sekitar kita. Kejelian kita untuk melihat potansi zakat yg sampai saat ini terkesan sia-sia. Dan yg utama adl kejelian penguasa (pemerintah) untuk mulai melihat mereka (pengemis) sbg warga negara yg juga punya potensi untuk diberdayakan, bukan semata sbg sampah massa yg harus disingkirkan.
So, sblm makin banyak pengemis yg menyerbu jakarta atau mkn byk penduduk ibukota ini yg ‘berubah’ jd pengemis, mari kita mulai untuk “peduli”.
hari ini aku merenungi
telah banyak yang kulakukan dalam mengisi umur ini
tapi semakin dalam ku renungi, semakin sedih kudapati
ternyata belum cukup syukur dan amalan kucurahkan
padahal kusadari tangkai umurku semakin berkurang
andai aku dimakamkan hari ini,
dan semua menjadi tak terma’afkan,
dan semua menjadi terlambat,
dan aku harus sendiri,
untuk waktu yang tak terbayangkan…
atau andai “mati” itu datang esok pagi
aku masih bimbang, kemana aku akan pergi
padahal sebungkus bekalpun belum sempat kurapikan
untuk menyongsong perjalanan panjang
lagi menggetarkan, yang telah dijanjikan…
ahh, andai benar esok pagi aku mati, kemana aku akan pergi?
Diarsipkan di bawah: renungan

kenapa menjadi orang yang KALAH itu menyesakkan
Kenapa menjadi orang yang kehilangan itu menyakitkan
kenapa menjadi ARIF, menerima kekalahan itu sulit
apakah krn LUKA ini belum sembuh, walau sdh berbilang purnama
Ya Alloh, kumohon segera tunjukkan “obat” dari luka ini…
