Filed under: renungan
Ibu. Wanita yg daripadamu aku mendapat air kehidupan. Daripadamu aku dibesarkan dgn kasih sayang. Dan daripadamu aku belajar akan cinta, alam dan Tuhan. Wanita yg tak akan pernah berani kupersamakan dengan wanita manapun di dunia.
Aku sadar, seberapapun kuat usaha, hutangku tak akan pernah impas. Aku cuma bisa berdoa, agar Alloh slalu memberiku kekuatan untuk membalas hutang kebaikanmu itu. Aku berdoa smg Alloh berkenan menghapus sgl salahmu dan menerima amal ibadahmu. Meng-hisab tiap debu di tiap langkahmu, tiap tetes darah, keringat dan air mata yang tercecer slm membesarkanku, sebagai untaian kebaikan yg menghantarkanmu kelak ke surga-Nya. Aku juga berdoa agar Alloh berkenan menjauhkan waktu itu. Waktu di saat aku tak akan bisa bermanja lagi dengan usapan bijak jemarimu di kepalaku. Waktu di saat terakhir kali-nya akan bisa kukecup hormat punggung tanganmu. Waktu di saat harus kumandikan dan kusholatkan tubuh suci-mu, atau sebaliknya. Aku ingin waktu itu masih jauh…
Ya Alloh, akan ku-Nadzar-kan tubuhku untuk jadi anak yang shalih. Karena kalau tidak, doa ku tidak akan mungkin Engkau terima.
.
*Mampang Prapatan, 25 Mei 10.00 WIB. Di sebelah driver-kantor yg sdg mengemudi dgn gugupnya sambil berkaca2 matanya menahan tangis, setelah menerima kabar ibunda tercintanya baru saja meninggal dunia.
2 Komentar sejauh ini
Tinggalkan komentar

Like this
Komentar oleh Catur Adi Nugroho Mei 27, 2010 @ 7:49 pmcerita nhya bagus juga,..
Komentar oleh investasi emas Juli 30, 2010 @ 9:06 pm