Boelan Sabit


doa lebaran
September 21, 2009, 4:30 pm
Diarsipkan di bawah: just for fun, ordinary

Kemarin habis sungkem, dgn setengah bercanda bilang ke ibu, “Bu’  minta doanya ya moga lancar jodoh”. Tak dinyana si-Ibu merespon dengan memberikan requirements yg sedikit specific dan memberatkan. “Her, klo cari istri tuh klo bisa yang…… harus yang…… jangan yang……”.

Yah cari jodoh ternyata ribet. Huff… kayaknya harus me-loby ulang si-Ibu nih (dgn santun & hati2) , hehe.

“Ya Alloh tempat menggantungkan segala sesuatu, lancarkanlah segala urusanku”.



Un-same Lebaran
September 16, 2009, 9:19 pm
Diarsipkan di bawah: ordinary

FatherAndSon2
.

Lebaran ini tak akan lagi terasa sama. Satu tangan telah menghilang. Tangan yang slalu kucium hormat. Tangan yang slalu mengusap kepalaku dgn bijak dan hangat…

Pagi itu, aku kembali menjejak kota kelahiranku.  Namun tak seperti biasanya yang ramah menyambut, kota itu tampak begitu suram, ah mungkin memang mataku saja yang sudah capek di perjalanan.
Tampak di muka gerbang stasiun, adikku sudah menunggu diatas motornya.  Segera kuhampiri dia, kuusap rambutnya dan segera kami meluncur meninggalkan stasiun itu. Sedikit kata yang meluncur dari mulut kami, sepi, sehening kota solo di pagi buta itu.

Sampai di suatu persimpangan, harusnya kami melaju ke kiri (arah ke rumah), tapi motor itu terus melaju lurus, aneh. Hingga tibalah kami disuatu bangunan besar bercat putih pucat. Memasuki bangunan itu, aku serasa dipaksa kembali untuk mencium bau yang tidak aku suka, bau rumah sakit.

Semakin melangkah, smkn suram perasaan. Hingga ketika kubuka pintu sebuah kamar, hampir2 tak kukenali lagi sosok yang terbaring lemah itu. Sosok laki2 yang begitu kurus dan layu, matanya sayu dan begitu cekung, sebuah selang tampak menembus ke lubang hidungnya. Sementara disampingnya duduk seorang wanita setengah baya yang tampak setia menungguinya.

Mulutku hanya diam membisu, namun dadaku seolah ingin meledak seiring tumpahnya airmataku. Kucium pergelangan tangan, pipi dan dahinya. Kulihat matanya berkaca, bersamaan dengan tangannya yang berusaha menggapai kepalaku… Tak berselang satu purnama kemudian nafas-nya pun terhenti.

Ya Ar-Rohim, sudah hampir pungkas 1 tahun Engkau panggil ayahku. Sayangilah ia dengan sebaik-baik kasih sayang. Tempatkan ia di tempat yg mulia, dlm golongan orang2 sholeh.

Ya Allohu Shomad, jadikan kami yang ditinggalkan menjadi orang sabar dan kuat, yang selalu berjalan di al-shirot al-mustaqim : jalan orang2 yang Engkau beri nikmat bukan jalan mereka yg Engkau murkai dan mereka yang sesat.

jakarta, 16-09-2009



Care-less
September 12, 2009, 3:15 pm
Diarsipkan di bawah: ordinary, renungan

Pengemis

Sore itu sepulang dari kantor, aku sengaja jalan kaki skalian menikmati suasana jakarta di sore hari. Seperti biasa ketika melintasi salah satu jembatan penyeberangan di jl.jend sudirman, banyak pedagang kaki lima yg menjajakan barangnya di badan jalan. Yah menurutku cukup mengganggu sih, tapi tak apalah, aku paham bagaimana kondisi hidup di jakarta, malah menurutku hal tsb menunjukkan besarnya semangat hidup mereka.

Tapi hanya berselang bbrp meter dari dereten pedagang tadi, aku jumpai hal yg menyedihkan, bbrp Pengemis tampak duduk (lesehan) di bbrp sudut jembatan. Umumnya mereka berpakaian kumal dan lintas golongan, bisa pria maupun wanita, anak2 maupun orang tua. Dan yg utama penampilan mereka sdh pasti membuat hati iba, ada yg menonjolkan wajah tua, luka-luka, cacat fisik dan yg plg tidak aku suka terkadang ada yg membopong bayi yg msh merah. Anehnya keberadaan mereka seolah terorganisir, krn hampir pasti dpt ditemui di tempat2 umum seperti terminal, halte bus dan jembatan penyeberangan. Seolah2 mrk datang dr seluruh negeri, hanya untuk mengadu nasib sbg pengemis di ibukota ini.

Yah pengemis, yg menurut perbendaharan kata di otak kita tentu mendefinisikan sebagai sosok pemalas yg menggantungkan hidup dari meminta-minta belas kasih pemberian orang lain. Kaum terpinggirkan yg dianggap mengganggu dan merusak pemandangan kota. Dan sblm-nya pendapatku pun sama. Tapi, apakah memang benar seperti itu?, bukankah keberadaan mereka sebenarnya disebabkan oleh “ketidak-pedulian” kita…

Sblmnya mari berfikir positif saja, Keputusan mereka menjadi pengemis tentu didasari oleh ketidakberdayaan, krn tidak ada pilihan lain untuk hidup. Bukankah sdh sifat naluriah manusia bahwa jika kita dalam kondidi tidak berdaya, kita cenderung menggantungkan (minta tolong) kpd orang lain, namun ketika tak satupun orang yg peduli maka hasilnya adalah “Putus Asa”.

Ketidakpedulian kitalah yg membuat mereka menjadi sosok tanpa semangat hidup dan tanpa pilihan hidup.

Dimulai dari ketidakpedulian kita pada teman, saudara atau tetangga yg kesusahan. Kita juga acuh saja ketika mereka kemudian jatuh fakir, miskin dan kelaparan, padahal bukankah di sebagian harta yg kita miliki sebenarnya ada harta yg menjadi hak mereka. Bahkan ketika mereka sdh benar2 jd pengemis dan menengadahkan tangan di depan kita, kita cuma berlalu saja dan ttp enggan utk peduli, kita msh saja berfikir : “ah paling juga ada orang lain yg peduli”. Atau kalaupun ketika kita memberikan uang receh kpd mereka (pengemis) sebenarnya kita tetap saja tidak peduli : krn kita cuma peduli akan nasib perut mereka hari itu tapi tidak akan masa depan mereka.

Lalu bgmn jalan keluarnya?, yah terlalu beratlah utk dipikirkan sendirian oleh otak yg dangkal dan kerdil macam otakku ini, haha.

Menurutku banyak yg bisa kita lakukan. Dimulai dari kemampuan kita untuk menjaga “kemandirian” diri sendiri. Dilanjutkan dgn kepedulian kita untuk menjaga kemandirian saudara, sahabat dan tetangga sekitar kita. Kejelian kita untuk melihat potansi zakat yg sampai saat ini terkesan sia-sia. Dan yg utama adl kejelian penguasa (pemerintah) untuk mulai melihat mereka (pengemis) sbg warga negara yg juga punya potensi untuk diberdayakan, bukan semata sbg sampah massa yg harus disingkirkan.

So, sblm makin banyak pengemis yg menyerbu jakarta atau mkn byk penduduk ibukota ini yg ‘berubah’ jd pengemis, mari kita mulai untuk “peduli”.



Taubah
September 10, 2009, 7:24 pm
Diarsipkan di bawah: poetry

hamba hanyalah setitik debu yang hina
yang rapuh dan berkubang
dalam hilaf serta dosa
yang tersadar dalam gelisah
setelah begitu jauh melangkah
terlena akan buaian nafsu dunia
mungkinkah kan mengelupas dari raga
daki dan kotoran-kotoran
yang telah mendarah daging menjadi satu
hamba tak tahu….

Ya Allahu Shomad…
sebelum nyawa terlepas dari raga
biarkan air mata ini menetes
bukan karena air mata derita
tapi karena air mata bahagia