Diarsipkan di bawah: ordinary
Sabtu (21 juni 2008), kemarin aku sempatkan untuk berkunjung ke rumah sahabatku (bimo) di kalimalang jaktim. Oleh dia, aku diberikan rute perjalanan yang menurutnya paling mudah, yaitu dari perempatan karet sudirman naik mikrolet 44 turun di terminal kampung melayu kemudian dilanjutkan naik mikrolet M26 turun di perempatan pangkalan jati. Sempet khawatir tersesat juga sih, maklum belum kenal jakarta daerah situ. Dengan niat tulus (walah), berangkatlah aku.
Memasuki daerah kampung melayu (selepas casablanca), aku sedikit heran, kok ada ya daerah jakarta yang kayak gini. Kayak jogja banget, mulai dari jalan, gedung2 dan suasananya, cuma klo di jogja sedikit lebih rapi dan lengang (maklum selama ini aku cuma berkutat di jakpus ama jaksel). Apalagi memasuki jalan kalimalang, di sepanjang bantaran sungai suasananya makin ndeso lagi.
sedikit cerita tentang sungai kalimalang, sungai ini relatif cukup bersih (sangat bersih untuk ukuran jakarta), tidak bau, arus airnya lancar dan hampir tidak ada sampah yang mengotori, bahkan sesekali masih ada orang berenang mengumpulkan enceng gondok di pinggir kali. Apalagi banyak pohon rindang di sepanjang sungai, menambah sejuk suasana.
Sampai di perempatan pangkalan jati, akupun turun. kemudian miscall bimo untuk jemput aku. tak lama berselang tampaklah sahabat baikku itu dengan badan tambunnya (jd inget temenku yang lain, harseno, mirip banget). Ternyata rumahnya tidak jauh dari perempatan, cuma sekitar 2 rumah dari jalan raya, pas dipinggir kali.
memasuki rumahnya, aku disambut puluhan tanaman hias yang tertata rapi. sambil melepas lelah aku duduk di ruang tamu ditemani segelas sirup, sepiring arem-arem dan sepiring bakwan (msh anget lho), wah nikmat….rasanya. Setelah itu langsung kuhidupkan laptopku, klik winamp dan mulai deh mereview kerjaan dikantor. Mumpung ada yang jago PHP (bimo tuh yg jago, bukan aku) ya skalian aja suruh ngajarin aku.
Aku juga sempat berkenalan dengan bapak dan ibunya bimo, juga kakaknya, yang ternyata berasal dari daerah delanggu klaten. Pantesan aja beberapa kali kudengar mereka bicara dalam bahasa jawa. yah jadi inget rumah deh.
begitulah kuhabiskan waktuku sampai asyar. selepas sholat asyar akupun pamit balik ke kos (karet gusuran). makasih ya bim atas waktunya, ilmunya, makanannya dan keikhlasannya untuk direpoti. Kapan-kapan dolan maning dah….
Diarsipkan di bawah: ordinary

Kemarin sore (24 Juni 2008), mungkin sejak pukul 16.00, sekelompok massa yang mengatasnamakan mahasiswa (mahasiswa mana tuh?) melakukan demo di depan kampus atmajaya,entah pesan apa yang mereka bawa. Mereka memblokir jalan sudirman dengan menaruh papan dan kayu di badan jalan, ulah mereka cukup membuat jalanan jadi macet. Arus jalan ke arah blok-M otomatis macet total. Beberapa pengguna jalan yang merasa terhalangi mencoba memaksa lewat, sebuah busway yang terhalangi tumpukan papan dan kayu nekat menerobos, menggilas tumpukan papan itu.
Makin sore demo makin menjadi, sadar aksi blokir jalan mereka kurang mempan, mereka mulai berani membakar ban dan kayu di tengah jalan dan menyabotase sebuah bis milik pemda kemudian menyilangkannya menutupi badan jalan. Lama kelamaan ulah merekapun menjadi lebih anarkis, memasuki petang hari sebuah mobil plat merah mereka cegat kemudian mereka gulingkan dan lempari, entah bagaimana nasib pemiliknya apakah berhasil menyelamatkan diri. sementara lampu kamera wartawan terus berkilatan menghiasi aksi demo itu.
Banyak pekerja yang pulang kantor hanya bisa menyaksikan sembari menunggu bis yang tak kunjung datang karena terjebak macet. Begitu juga aku, asyik menonton dari lantai 5 kantorku. Dan yang lebih aneh lagi,tak satupun polisi atau satuan aparat keamanan manapun menunjukkan batang hidungnya, kemana mereka saat dibutuhkan?.
Habis maghrib aku nekat pulang, berharap bis ke arah kosku (karet gusuran) masih ada. Alhamdulilah, walau macet masih ada satu-dua bis yang berhasil lewat. Sampai halte busway karet, aku turun dan kulihat dari jembatan penyeberangan, kemacetan yang luar biasa parah akibat ulah demo segelintir massa tadi. Banyak mobil memutar arah di badan jalan dan yang lebih lucu lagi banyak busway ke arah blok-M yang berjalan mundur (karena macet trus gak bisa muter, ya jalan mundur). Belum hilang rasa hilangku, aku dikejutkan oleh sebuah motor yang lewat (tunggu dulu, aku di jembatan penyeberangan, kok ada motor lewat?). Ya, yang lewat tadi bener2 motor, bukan hanya satu tapi lebih. Busyeet…..!
Kupikir-pikir aksi massa yang mengatasnamakan mahasiswa tadi adalah sampah belaka. Mereka katanya berjuang demi kepentingan rakyat, tapi aksi mereka malah merugikan kepentingan orag banyak. Apakah gak ada cara lain yang lebih baik, lebih sopan dan lebih “manusiawi’ untuk menyampaikan pesan yang mereka bawa. Apakah demo mahasiswa harus selalu identik dengan anarkisme….?!